https://www.e-journal.mrhj.ac.id/Jkk/issue/feedJURNAL ILMIAH KEBIDANAN DAN KESEHATAN2026-01-14T19:36:42+07:00Erny Elviany Sabaruddin, S.Pi., M.Siernyelviany@gmail.comOpen Journal Systems<p style="text-align: justify;">Jurnal Ilmiah Kebidanan dan Kesehatan adalah Jurnal Ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat STIKes Mitra RIA Husada Jakarta. Setiap tahun publikasi dilakukan dua periode yaitu Januari dan Juni. Jurnal Ilmiah Kebidanan dan Kesehatan ini fokus pada hasil-hasil penelitian dalam lingkup ilmu kesehatan masyarakat dan kebidanan. Selain itu juga, Jurnal Ilmiah Kebidanan dan Kesehatan dapat membantu memperkaya referensi ilmiah yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.</p>https://www.e-journal.mrhj.ac.id/Jkk/article/view/364TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN (P3K) MAHASISWA DI STIKES M TAHUN 20252025-12-05T09:17:02+07:00Diah Warastutidiahcary@gmail.comAurel Dias Nataliaaureldias44@gmail.comSeal Viana Mayada Putridiahcary@gmail.comAstrid Puti Arumdiahcary@gmail.comDivo Pratama Putradiahcary@gmail.comSandra Anandadiahcary@gmail.comAshiva Alfauziahdiahcary@gmail.comAnanda Putri Khatamidiahcary@gmail.com<p>Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) memiliki peran penting dalam menyelamatkan hidup dan memastikan kehidupan yang lebih baik dan lebih cepat dalam pemulihan. Pengetahuan tentang P3K merupakan bekal dasar yang seharusnya dimiliki oleh semua masyarakat, salah satunya adalah mahasiswa di institusi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Tingkat pengetahuan tentang Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) pada mahasiswa STIKes M. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik, dengan pendekatan kuantitatif yang dilakukan terhadap 50 responden sebagai sampel dari 76 populasi mahasiswa STIKes M menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 72% responden memiliki pemahaman yang baik tentang P3K baik dari mahasiswa program studi kesehatan masyarakat maupun kebidanan. Mayoritas responden memiliki pengetahuan yang baik tentang P3K, namun masih diperlukan edukasi dan pelatihan berkala serta penambahan mata kuliah khusus P3K, terutama bagi mahasiswa dengan pengetahuan yang masih cukup atau kurang, khususnya dari program studi kebidanan. Program semacam itu memberikan kontribusi yang signifikan dalam membina profesional perawatan kesehatan yang kompeten dan siap menangani situasi mendesak.</p> <p> </p>2026-01-01T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2025 JURNAL KESEHATAN DAN KEBIDANANhttps://www.e-journal.mrhj.ac.id/Jkk/article/view/367PERAN KELUARGA PADA MASA NIFAS UNTUK MENCEGAH TERJADINYA DEPRESI POST PARTUM DI TPMB Y, BREBES PADA TAHUN 20252025-12-09T14:25:16+07:00Sinta Dwi Juwitasintajuwiya18@gmail.comYulita Nengsihsintajuwiya18@gmail.comNur Rahma Hidayahsintajuwiya18@gmail.com<p>Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. Menurut teori Reva Rubin fase-fase adaptasi psikologis pasca persalinan menjadi 3 tahapan, yaitu : Taking In, Taking On dan Letting Go. Apabila ibu ifas mengalami masalah dalam fase tersebut, peluang terjadinya komplikasi masa nifas khususnya terhadap psikologis akan menjadi tinggi. Depresi postpartum yaitu gangguan suasana hati pada ibu postpartum yang terjadi dalam enam bulan setelah melahirkan. Depresi postpartum merupakan depresi yang terjadi setelah proses melahirkan dan dapat berdampak negatif pada ibu yang mengalami, bayi yang dilahirkan, dan keluarga dari ibu sendiri. <strong>Metode Penelitian</strong>: Penelitian ini adalah penelitian survei analitik dengan pendekatan Cross-Sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan variabel dimana variabel independen dan dependen diidentifikasi dalam satu waktu. <strong>Hasil penelitian</strong> menunjukkan bahwa ibu nifas yang tidak mendapat dukungan keluarga sebanyak 3 orang (15%) dan mendapat dukungan keluarga sebanyak 17 orang (85%). Sedangkan untuk ibu nifas yang mengalami kejadian depresi post partum sebanyak 14 orang (60%) dan yang tidak terjadi depresi post partum sebanyak 6 (40%). Dari hasil penelitian menyatakan bahwa berdasarkan hasil uji chi square yaitu 0,219 (>0,005) yang artinya tidak terdapat hubungan dukungan keluarga melalui peristiwa depresi post partum. <strong>Kesimpulan</strong>: Sejumlah penyebab yang diasumsikan menjadi etiologi depresi postpartum yang pertama neurologi postpartum, depresi biasanya terkait dengan penyakit sirkuit saraf yang mengakibatkan penurunan volume otak. Mereka yang menderita gangguan depresi berat mengalami penurunan ini. Kedua, gangguan autoimun selama persalinan, seorang ibu terkena beragam antigen fetal. Suatu pengkajian menduga bahwa akibat adanya paparan tersebut berefek pada kondisi psikologis ibu. Dan gangguan tidur seorang ibu melewati fase penyesuaian diri dengan peran barunya setelah melahirkan. Kurang tidur mungkin disebabkan oleh tugas barunya karena ia harus merawat bayinya. Depresi pascapersalinan sebagian disebabkan oleh terganggunya sintesis hormon ini.</p>2026-01-27T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 JURNAL ILMIAH KEBIDANAN DAN KESEHATANhttps://www.e-journal.mrhj.ac.id/Jkk/article/view/369PERBEDAAN KEJADIAN GANGGUAN MENSTRUASI BERDASARKAN POLA MAKAN, STATUS GIZI, TINGKAT STRES, DAN AKTIVITAS FISIK PADA WANITA SUBUR DI RSIA TUMBUH KEMBANG DEPOK2025-12-09T14:24:03+07:00Imelda Marsiliaimeldadiana33@gmail.comNina Tresnayantiimeldadiana@mrhj.ac.idSiti Hana Vitaimeldadiana@mrhj.ac.id<p style="font-weight: 400;">Menstruasi adalah proses fisiologis alami yang menjadi indikator penting kesehatan reproduksi wanita, namun sering mengalami gangguan akibat berbagai faktor. Gangguan siklus menstruasi dapat memengaruhi kesuburan, meningkatkan risiko penyakit kronis, bahkan menyebabkan infertilitas. Faktor yang memengaruhi kelancaran haid antara lain pola makan, status gizi, tingkat stres, dan aktivitas fisik. WHO (2018) melaporkan sekitar 80% wanita di dunia mengalami ketidakteraturan menstruasi, sedangkan di Indonesia prevalensinya mencapai 11,7% Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kejadian gangguan menstruasi berdasarkan pola makan, status gizi, tingkat stres, dan aktivitas fisik pada wanita usia subur di RSIA Tumbuh Kembang tahun 2025. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional dengan analisis korelasi. Sampel sebanyak 49 responden ditentukan dengan teknik Slovin dari populasi 97 orang. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur serta pengukuran status gizi langsung. Analisis univariat digunakan untuk distribusi frekuensi, sedangkan uji Chi-Square untuk hubungan variabel. Hasil penelitian menunjukkan gangguan terbanyak adalah dismenorea (26,5%), oligomenorea (18,4%), dan menoragia (16,3%). Terdapat hubungan signifikan antara pola makan (p=0,008) dan tingkat stres (p=0,016) dengan gangguan menstruasi. Namun, status gizi (p=0,349) dan aktivitas fisik (p=0,058) tidak berhubungan signifikan. Kesimpulan penelitian ini adalah pola makan dan tingkat stres memiliki hubungan bermakna dengan kejadian gangguan menstruasi pada wanita usia subur, sedangkan status gizi dan aktivitas fisik tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.</p> <p style="font-weight: 400;"> </p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Kata Kunci: gangguan menstruasi, pola makan, status gizi, stres, aktivitas fisik, wanita usia subur</strong></p>2026-01-27T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 JURNAL ILMIAH KEBIDANAN DAN KESEHATANhttps://www.e-journal.mrhj.ac.id/Jkk/article/view/371EDUKASI LEAFLET TERHADAP SEBAGAI MEDIA PENINGKATAN PENGETAHUAN GIZI IBU HAMIL DALAM UPAYA CEGAH STUNTING DI TPMB Y TANGERANG TAHUN 20252025-12-31T18:31:14+07:00Dina Arihta ditabayu26@gmail.comNabiilah Na’fa Labi’bahditabayu26@gmail.comNurul Azmiditabayu26@gmail.com<p>Stunting pada balita merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada kesehatan, perkembangan, dan kualitas hidup anak. Pencegahan stunting dapat dimulai sejak masa kehamilan melalui pemenuhan gizi yang optimal dan edukasi mengenai 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Studi pendahuluan di TPMB Bidan Y Kecamatan Pasarkemis Kabupaten Tangerang menunjukkan bahwa dari 5 ibu hamil yang diwawancara, hanya 1 orang (20%) yang mengetahui pentingnya gizi selama kehamilan, sedangkan 4 orang lainnya (80%) belum memiliki pengetahuan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi dengan media leaflet terhadap tingkat pengetahuan ibu hamil tentang gizi cegah stunting. Metode penelitian ini menggunakan desain quasi-experiment one group pretest-posttest, dengan populasi 63 ibu hamil dan sampel sebanyak 33 ibu hamil yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan edukasi, 48,5% responden memiliki pengetahuan kurang, 39,4% cukup, dan 12,1% baik. Setelah edukasi dengan media <em>leaflet, </em>97% responden memiliki pengetahuan baik dan 3% cukup. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan. Diharapkan TPMB Bidan Y dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai informasi pendukung dalam meningkatkan edukasi gizi untuk pencegahan stunting sejak dini.</p>2026-02-04T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 JURNAL ILMIAH KEBIDANAN DAN KESEHATANhttps://www.e-journal.mrhj.ac.id/Jkk/article/view/376FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGETAHUAN WUS TENTANG PMS DI PUSKESMAS SIRNAJAYA BEKASI TAHUN 20252026-01-14T19:36:42+07:00Yulita Nengsihyulita_nengsih@mrhj.ac.idImelda Diana Marsilia yulitanengsih2015@gmail.comShintiya Loren yulitanengsih2015@gmail.com<p style="font-weight: 400;">Penyakit menular seksual (PMS) masih menjadi masalah kesehatan global dan menimbulkan dampak serius seperti infertilitas, kanker, serta peningkatan risiko HIV. Wanita usia subur (WUS) memiliki kerentanan lebih tinggi dibandingkan laki-laki karena gejala awal PMS sering tidak dikenali. Pengetahuan WUS mengenai PMS berperan penting dalam upaya pencegahan dini, namun tingkat pengetahuan dapat dipengaruhi oleh faktor usia, pendidikan, pekerjaan, dan sumber informasi. Tujuan Penelitian ini mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pengetahuan WUS tentang PMS di Puskesmas Sirnajaya Kecamatan Serang Baru Kabupaten Bekasi tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel sebanyak 56 WUS dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner tertutup yang telah tervalidasi. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil Penelitian menunjukkan sebagian besar responden berusia 20–30 tahun (41,1%), berpendidikan rendah (64,3%), bekerja (55,4%), memperoleh informasi dari non tenaga kesehatan (58,9%), dan memiliki pengetahuan cukup (48,2%). Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan antara usia (p=0,949) dan pekerjaan (p=0,259) dengan pengetahuan. Namun terdapat hubungan signifikan antara pendidikan (p=0,000) dan sumber informasi (p=0,000) dengan tingkat pengetahuan WUS tentang PMS. Dapat <strong>disimpulkan dalam penelitian ini bahwa </strong>pendidikan dan sumber informasi berhubungan signifikan dengan tingkat pengetahuan WUS tentang PMS. Peran tenaga kesehatan sangat penting dalam memberikan edukasi yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan dan mencegah PMS pada wanita usia subur.</p> <p style="font-weight: 400;"> </p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Kata Kunci</strong>: Pengetahuan, Wanita Usia Subur, Penyakit Menular Seksual, Pendidikan, Sumber Informasi</p>2026-02-04T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 JURNAL ILMIAH KEBIDANAN DAN KESEHATANhttps://www.e-journal.mrhj.ac.id/Jkk/article/view/370PENGARUH HYPNOBREASTFEEDING TERHADAP KECEMASAN MENYUSUI PADA IBU POSTPARTUM PRIMIPARA2025-12-31T18:26:48+07:00Nurulicha nurulnnurulicha26@gmail.comRohesih Rohesihnurulicha@mrh.ac.idDaniah Daniahnurulicha@mrh.ac.id<p>Kecemasan menyusui merupakan salah satu faktor psikologis yang dapat menghambat keberhasilan menyusui, khususnya pada ibu postpartum primipara. Kondisi kecemasan dapat mengganggu refleks pengeluaran ASI melalui penghambatan hormon oksitosin. Hypnobreastfeeding merupakan metode relaksasi nonfarmakologis yang mengombinasikan hipnosis dan sugesti positif untuk meningkatkan rasa nyaman dan kepercayaan diri ibu saat menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hypnobreastfeeding terhadap kecemasan menyusui pada ibu postpartum primipara.</p> <p>Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental dengan pendekatan pretest–posttest tanpa kelompok kontrol. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Panggarangan Kabupaten Lebak pada bulan Maret–April 2025. Sampel penelitian sebanyak 30 ibu postpartum primipara yang dipilih dengan teknik total sampling. Tingkat kecemasan menyusui diukur menggunakan kuesioner kecemasan sebelum dan sesudah intervensi hypnobreastfeeding. Analisis data dilakukan menggunakan uji paired t-test dengan tingkat signifikansi 0,05.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor kecemasan yang signifikan setelah diberikan intervensi hypnobreastfeeding dibandingkan sebelum intervensi (p < 0,001). Hal ini menunjukkan bahwa hypnobreastfeeding berpengaruh secara signifikan dalam menurunkan kecemasan menyusui pada ibu postpartum primipara.</p> <p>Kesimpulan penelitian ini adalah hypnobreastfeeding dapat digunakan sebagai intervensi komplementer yang efektif untuk menurunkan kecemasan menyusui dan mendukung keberhasilan pemberian ASI pada ibu postpartum.</p>2026-02-04T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 JURNAL ILMIAH KEBIDANAN DAN KESEHATANhttps://www.e-journal.mrhj.ac.id/Jkk/article/view/375EFEKTIFITAS MEDIA PROMOSI GIZI VIDEO DAN POSTER TERHADAP PENGETAHUAN KONSUMSI BUAH DAN SAYUR PADA ANAK SEKOLAH DASAR2026-01-14T19:34:21+07:00Erny Elviany Sabaruddinernyelviany@gmail.comKhaerani Anisa Putriernyelviany@gmail.com<p>Pengetahuan mengenai konsumsi buah dan sayur berdampak pada sikap dan perilaku seseorang untuk mengonsumsi buah dan sayur. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan efektivitas promosi kesehatan dengan menggunakan media video dan poster pada pengetahuan mengenai konsumsi buah dan sayur pada siswa/i SD Negeri 01 Kabupaten Bekasi. Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian kuasi-eksperimental. Sampel dalam penelitian adalah seluruh siswa/i kelas 6 SDN Cibening 01 Kabupaten Bekasi, berjumlah 80 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner<em>. </em>Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan uji <em>paired sample t-test</em> dan uji <em>independent t-test.</em> Hasil penelitian rerata pengetahuan mengenai konsumsi buah dan sayur pada kelompok video adalah <em>pre-test </em>10,38 poin<em>, post-test </em>17,88<em>, </em>sedangkan pada kelompok media poster adalah <em>pre-test </em>10,40, <em> post-test </em>14,38<em>. </em>Ada perbedaan peningkatan skor pengetahuan mengenai konsumsi buah dan sayur pada siswa/i dengan menggunakan media video dan media poster dengan nilai Sig.(1-tailed) 0.001<0.05. Penggunaan media video dan poster dapat meningkatkan pengetahuan siswa/i, serta penggunaan media video lebih efektif dibandingkan poster dalam meningkatkan pengetahuan mengenai konsumsi buah dan sayur. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu media pembelajaran dikelas untuk memberikan promosi kesehatan agar pengetahuan siswa/i meningkat sehingga dapat meningkatkan konsumsi buah dan sayur</p>2026-02-04T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 JURNAL ILMIAH KEBIDANAN DAN KESEHATANhttps://www.e-journal.mrhj.ac.id/Jkk/article/view/366DETERMINAN GEJALA PENYAKIT DEGENERATIF PADA PEKERJA DITINJAU DARI FAKTOR INDIVIDU DAN PEKERJAAN2025-12-05T09:09:45+07:00Bayu Wimo Pbayuwimo06@gmail.comCarwadi Carwadicarwadiskm@gmail.comNuraini Nurainibayuwimo06@gmail.comYosi FDbayuwimo06@gmail.comDiah Warastutibayuwimo06@gmail.com<p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor individu dan pekerjaan dengan gejala penyakit degeneratif, serta menentukan faktor dominan yang paling berpengaruh. menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional). Jumlah sampel sebanyak 161 karyawan yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan data sekunder. Analisis data dilakukan menggunakan uji <em>Chi-Square</em> untuk analisis bivariat dan regresi logistik ganda untuk analisis multivariat. Sebagian besar responden mengalami gejala penyakit degeneratif, terutama kolesterol tinggi. Terdapat hubungan signifikan antara usia, IMT, aktivitas fisik, dan shift kerja dengan gejala penyakit degeneratif dengan menunjukan nilai Usia dengan OR 5.031 dan P-value 0.025, IMT dengan OR 5.336 dan P-value 0.027, Pola makan dengan OR 3.686 dan <em>P-value</em> 0.204, Aktivitas Fisik dengan OR 5.338 dan P-value 0.022, Pengetahuan dengan OR 1.609 dan <em>P-value</em> 0.236, Shift dengan OR 734 dan P-value 0.005. Sementara pola makan dan pengetahuan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil uji multivariat menunjukkan bahwa usia dan IMT merupakan faktor yang paling dominan terhadap gejala penyakit degeneratif dengan nilai Nagelkerke R² sebesar 0,155. Usia dan IMT yang tidak normal menjadi faktor utama dalam kemunculan gejala penyakit degeneratif di lingkungan kerja. Diperlukan upaya promotif dan preventif yang berkelanjutan melalui pemeriksaan kesehatan rutin, pengelolaan berat badan, serta edukasi kesehatan, terutama pada karyawan usia ≥40 tahun.</p> <p>Kata kunci : penyakit degeneratif, usia, IMT, pola makan, aktivitas fisik, pengetahuan kesehatan, shift kerja.</p>2026-02-11T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2025 JURNAL KESEHATAN DAN KEBIDANANhttps://www.e-journal.mrhj.ac.id/Jkk/article/view/368EDUKASI BERBASIS LEAFLET SEBAGAI STRATEGI PENINGKATAN PENGETAHUAN GIZI IBU HAMIL DALAM PENCEGAHAN STUNTING2025-12-09T14:22:20+07:00Nurul Azmi Apriantinurulazmi426@gmail.comDina Arihta Tarigannurulazmi426@gmail.comNabiilah Na’fa Labi’bahnurulazmi426@gmail.com<p>Stunting pada balita merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada kesehatan, perkembangan, dan kualitas hidup anak. Pencegahan stunting dapat dimulai sejak masa kehamilan melalui pemenuhan gizi yang optimal dan edukasi mengenai 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Studi pendahuluan di TPMB Bidan Y Kecamatan Pasarkemis Kabupaten Tangerang menunjukkan bahwa dari 5 ibu hamil yang diwawancara, hanya 1 orang (20%) yang mengetahui pentingnya gizi selama kehamilan, sedangkan 4 orang lainnya (80%) belum memiliki pengetahuan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi dengan media leaflet terhadap tingkat pengetahuan ibu hamil tentang gizi cegah stunting. Metode penelitian ini menggunakan desain quasi-experiment one group pretest-posttest, dengan populasi 63 ibu hamil dan sampel sebanyak 33 ibu hamil yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan edukasi, 48,5% responden memiliki pengetahuan kurang, 39,4% cukup, dan 12,1% baik. Setelah edukasi dengan media leaflet, 97% responden memiliki pengetahuan baik dan 3% cukup. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan. Diharapkan TPMB Bidan Y dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai informasi pendukung dalam meningkatkan edukasi gizi untuk pencegahan stunting sejak dini</p>2026-02-12T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 JURNAL ILMIAH KEBIDANAN DAN KESEHATANhttps://www.e-journal.mrhj.ac.id/Jkk/article/view/373ANALISIS PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU REMAJA TERHADAP GIZI SEIMBANG DI STIKES MITRA RIA HUSADA JAKARTA 2025-12-31T18:36:25+07:00Nurhidayah Nurhidayahnh230575@gmail.comEka Maulana Nurzannah nh230575@gmail.comYulita Nengsih nh230575@gmail.com<p>Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap masalah gizi akibat perubahan kebutuhan fisiologis dan perilaku makan yang belum sesuai dengan prinsip gizi seimbang. Pengetahuan dan sikap merupakan faktor penting yang memengaruhi terbentuknya perilaku gizi pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap remaja dengan perilaku gizi seimbang.Metode Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain observasional analitik menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 40 remaja yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang mengukur pengetahuan, sikap, dan perilaku gizi seimbang. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 50% responden memiliki pengetahuan baik dan 52,5% memiliki sikap positif. Perilaku gizi seimbang yang baik ditemukan pada 57,5% responden. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan perilaku gizi seimbang (p = 0,011; OR = 7,429) serta antara sikap dengan perilaku gizi seimbang (p = 0,005; OR = 9,208).KesimpulanPengetahuan dan sikap berhubungan secara signifikan dengan perilaku gizi seimbang pada remaja, dengan sikap sebagai faktor yang lebih dominan. Diperlukan upaya edukasi gizi yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap positif guna mendorong perilaku gizi seimbang yang berkelanjutan pada remaja.</p> <p><em> </em></p> <p><strong>Kata kunci:</strong> remaja; pengetahuan; sikap; perilaku; gizi seimbang</p>2026-02-11T00:00:00+07:00Hak Cipta (c) 2026 JURNAL ILMIAH KEBIDANAN DAN KESEHATAN